Kebetulan Itu Justru Jadi Kesalahan

 


Halo Us, semoga paus dan tim selalu dalam lindungan-Nya. Senang kalau cerita ini bisa mengudara dan didengar oleh isi semesta.


Tepat setahun lalu aku kehilangannya. Kita satu desa Us, dan dia adalah kakak kelasku, kita cuma pernah satu sekolah waktu SD. Us, dulu aku tidak pernah melihat ke arahnya, sampai kebetulan itu membuat perasaan-perasaan aneh ini muncul, waktu itu kita masih duduk di bangku SMP tahun 2015, kalau mau diingat-ingat lucu Us karena kita harus berkomunikasi melalui SMS yang nggak bisa leluasa mengirim pesan sebab harus isi pulsa dulu :")

Singkat cerita saat duduk di bangku SMA ternyata masih dia, aku nggak tahu perasaan ini perasaan apa Us, yang aku tahu adalah aku tidak bisa melihat yang lain seperti aku melihatnya, aku membiarkan ruangan itu hanya terisi oleh namanya. 

Aku sudah terbiasa dengan alurnya yang datang dan pergi seenaknya, aku menikmati semua. Sampai ketika aku diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Us itu adalah kebetulan paling menyebalkan karena kita harus berada di perantauan yang sama, tapi kebetulan-kebetulan yang semesta hadiahkan itu cukup membuatku yakin bahwa perasaan ini bukan hanya milikku, tapi juga miliknya.

Us, aku sampai menulis sebuah buku untuknya, aku terinspirasi oleh mu yang menuliskan dia sampai menjadikan buku sebagai caramu untuk menyayanginya, aku juga ingin dia membaca itu sampai selesai.

Dan benar, akhir tahun 2021 aku tahu dia telah menyelesaikan coretan itu, yang tidak lain tokoh utamanya adalah dia sendiri, sepertinya dia mulai menyadari bahwa aku sengaja menulis itu untuknya, tapi bahkan saat aku menulis cerita ini aku tidak pernah membuat pernyataan di hadapannya bahwa buku sederhana itu adalah caraku mengungkapkan semua.

Semenjak kejadian itu, kita semakin dekat. Ku pikir akhir dari semua penantianku terjawab, dan aku semakin yakin bahwa di tahun 2022 kita sudah bertemu dalam satu titik yang sama, seolah masa depan sedang menanti cerita-cerita kita.

Tapi aku keliru, pada Februari 2023 dia memberi kenyataan yang sangat mengejutkan, di situ dia bilang bahwa selama ini dia hanya memaksa perasaannya untuk terus mau bersama denganku, padahal sudah hampir satu tahun kita dekat, hatiku seperti kehilangan salah satu bagiannya, yang tidak bisa aku terima adalah aku tidak pernah memintanya untuk datang apalagi memaksanya untuk tetap tinggal tapi kalimatnya seperti menyudutkanku bawa aku yang berlari ke arahnya.

Kupikir semua selesai karena mau tidak mau aku harus mengubur bayangan indah yang selalu kerancang untuk bersamanya 

Tapi kejutan semesta membuat jantungku sulit untuk berdetak normal, diantara ragam kecewa ternyata ruangan itu masih ada, dia meninggalkan harapan di bawah sudut kenangan yang dari sana ternyata aku masih menggantungkan harapan, bahwa semesta sedang merencanakan kisahku untuk bertemu dengannya, lagi.

Benar saja, Maret 2023 dia kembali Us. Kamu tahu kan, bagaimana rasanya orang yang kita harapkan bertahun-tahun yang kita kira sudah memilih untuk dilepaskan kini dia yang menuju ke arahku, ku terima dia dengan sukarela, tapi yang kudapatkan malah kecewa, dia kembali tidak dengan mengajak versi terbaiknya, justru dengan angka usianya yang sudah bukan anak kecil yang kutemui di samping jalan raya ketika aku masih memakai seragam pramuka, dia tetap sama. 

Sebuah kenyataan yang harus kutelan dengan perlahan adalah dia tidak pernah berubah, dia tetap manusia yang ku temui 9 tahun yang lalu. Yang tidak bisa bertanggungjawab atas perasaannya sendiri.

Dan garis yang kutarik dari apa yang ku pendam selama ini adalah aku hanya merawat egoku yang menginginkan perasaan ini sama.

Tapi aku ingat apa yang kamu bilang Us, sepertinya dewasa itu adalah tentang mengerti bahwa pada suatu titik dalam perasaan kita mungkin lebih baik kita menyerah saja.

Dan untukmu, aku masih di kota yang sama, tapi Surabaya isinya bukan hanya kamu saja, aku menemukan banyak warna setelah kamu nggak ada.

Ya sepertinya kita sudah menerima hidup masing-masing, tanpa harus bertukar kabar tanpa harus menyapa satu sama lainnya.

Dan lagipula aku sudah tidak ingin tahu gimana kabarmu atau siapa yang kamu beri kabar. Selain karena ngga semua cerita harus dilanjutkan, juga karena saat ini sudah ada hati yang harus kujaga. Kalau berkenan, do'akan kita ya, hehe.  

Semoga kamu juga menemukan apa yang kamu cari, yang dengannya kamu tidak pernah merasa dipaksa.

Komentar